Buah Kerja Keras dan Amalan Seribu Dinar

Kalau tahu ternyata seperti ini rasanya terbelit hutang, dari awal saya tidak akan mau menggunakan benda laknat bernama kartu kredit. Meskipun awalnya para sales kartu kredit menawarkan produk dan layanan mereka dengan segala janji akan kemudahan bertransaksi, namun pada kenyataannya jika kita sampai terlena, hanya hutang menumpuk yang akan kita peroleh di akhir cerita.

Saya tidak tahu lagi harus pakai cara apa untuk menghindari kejaran penagih hutang. Saya tidak mau diomeli debt collector, apalagi sampai dipukuli seperti nasib beberapa orang pemegang hutang yang beritanya ditampilkan di televisi. Tetapi bagaimanapun juga, seperti kata agama hutang tetap harus dibayar. Dan sebagai orang beragama, kepada agamalah kemudian saya mencari jalan keluar. Seperti saran ayah saya, saya kemudian mulai mengamalkan Ayat Seribu Dinar yang saya dapat dari situs www.ayatseribudinar.com. Tentu saja saya tidak sedekar menggantungkan nasib pada bacaan semata, sembari mengamalkan Ayat Seribu Dinar saya terus berusaha dan bekerja lebih keras agar hutang saya dapat terbayar.

Kerja keras dan tawakal memang dua hal yang mujarab, semujarab Amalan Seribu Dinar yang saya amalkan. Perlahan namun pasti hutang saya terbayar, hingga akhirnya tidak tersisa sama sekali. Semenjak tahu rasanya berhutang saya menjadi lebih hemat daripada sebelumnya, seberapapun sedikitnya penghasilan yang saya dapat selalu dapat saya gunakan dengan baik. Sejak saat itu pula saya kapok menggunakan kartu kredit, sebuah benda yang sebenarnya tidak bijak dimiliki oleh mereka yang tak pandai mengurus keuangan.

Sungguh, setelah melewati satu fase cobaan¬† memang sudah sewajarnya jika manusia yang mengalami cobaan tersebut menjadi satu tingkat lebih bijaksana. 

Tio P. – Tomohon

 

“Disclaimer : Kisah Testimonial ini hanya sebagai referensi dan hasil yang diperoleh Setiap Orang dapat berbeda”